John Legend-Where Did My Baby Go?

Posted Juli 21, 2009 by alfapyuee
Categories: Gibberish

“Where did my baby go?
I wonder where she ran off to
I miss my baby so
I’m calling but I can’t get through
Please tell that girl if you meet her
That someone’s longing to see her
Where did my baby go?
I wish that she would get back soon (get back soon)

I’m searching for the lover I knew
Have you seen her?
Where did she go?
Feels like I’ve just lost my only friend
Flames subsided, colors faded
Love just got so complicated
Wish that I could see her smile again
So if you see her out there, tell her I’m still here
Waiting for the day when she will reappear

Where did my baby go?
I wonder where she ran off to
I miss my baby so
I’m calling but I can’t get through
Please tell that girl if you meet her
That someone’s longing to see her
Where did my baby go?
I wish that she would get back soon (get back soon)

Maybe I was wrong and I
Ignored her for too long and I
Didn’t even notice when she slipped away
Maybe while I lay fast asleep then
Out into the night she creeps
I’ll leave the light on, so she’ll come back someday
So if you see her out there, tell her it’s not fair
That life’s just not the same when she’s not here

Where did my baby go?
I wonder where she ran off to
I miss my baby so
Just what am I supposed to do?
Please tell that girl if you meet her
That someone’s longing to see her
Where did my baby go?
I wish that she would get back soon (get back soon)”

Lagu berirama catchy ini berlirik apa adanya dengan diksi yang tidak macam-macam. Bunyi piano yang menjadi satu-satunya instrumen pengiring juga berhasil menghadirkan sedikit ironi (lirik agak nelangsa-karena-rindu dengan bunyi nada mayor yang ceria, saya bisa membayangkan melakukan slowdance dengan lagu ini). “Where did my baby go” bukan lagu jagoan di album “Once Again”, tapi secara pribadi saya lebih senang mendengar lagu ini dibandingkan “Save room”.

wanna listen? click here

Review: Les Choristes (The Chorus/Chorists/Die Kinder des Monsieur Mathieu)

Posted Juli 14, 2009 by alfapyuee
Categories: Reviews


This is my kind of movie. Musical, emotional, contain good messages, with not-globally-famous-yet and talented casts. Well, karena ini film 2004, pemerannya sudah terkenal sekarang, walaupun di Indonesia nama Jean-Baptiste Maunier (as Pierre Morhange) masih belum terdengar.

Setelah di Googling, ternyata film ini adalah remake dari film tahun 1945 berjudul “A Cage of Nightingales” (La Cage aux Rossignols). Tahun yang sungguh menjelaskan pilihan tema dan setting film ini.

“The chorus” bercerita tentang seorang guru baru di sebuah sekolah internat (boarding school) yang bernama Clement Mathieu (Gerard Jugnot). Sekolah yang bernama Fond de L’Etang (Bottom of the Pond) itu bukan sekolah biasa melainkan semacam sekolah khusus anak laki-laki yang bermasalah dengan perilaku. Tidak hanya itu saja, sekolah ini sepertinya juga tempat orang tua “menitipkan” anak laki-laki mereka dan tidak pernah kembali, seperti nasib Pepinot, anak kecil penakut yang selalu menunggu ayahnya datang menjemput di gerbang sekolah setiap hari sabtu, walaupun ayahnya itu tidak pernah datang.

Pierre Morhange adalah salah satu anak yang paling “menantang” guru di sekolah itu. Guru matematika menjelaskan morhange sebagai “Angelic face with devilish temper”. Ketika Mathieu memutuskan untuk mengajarkan musik kepada anak-anak kelasnya, Morhange adalah anak yang paling sulit diajak. Ternyata sebenarnya Morhange sangat tertarik, tapi karena gengsi, dia belajar menyanyi diam-diam setelah kelas selesai.

Seperti biasa demi kenikmatan menonton, I’m not gonna tell you the rest of the story…. hehehe.

Tidak hanya ceritanya saja yang menarik. Score-score dalam film ini juga sangat pas dan appealing (menurut saya) untuk dipahami dan dinikmati. “In Memoriam”,”Vois sur ton Chemin”,”Caresse sur l’Océan”,”Cerf-Volant”, “Compère Guilleri”, dan “La Nuit”. Sudah permanen di playlist saya….

Review: Hot Fuzz

Posted Juli 12, 2009 by alfapyuee
Categories: Reviews, Uncategorized


I love British Comedy Films!!!
Bukan cuma Rowan Atkinson aja yang lucu. Kalo belom pernah denger, You really should check this guy out: Simon Pegg. Terakhir, dia main di film “How To lose friends and alienate people”. Sebelum film ini ada “Shaun of the dead” yang saya belum nemu “asli maupun bajakannya”

This film makes fun out of those ‘Pyromaniac’ hollywood’s police action films like “Bad Boys”.

Jadi ceritanya Nicholas Angel adalah seorang Police officer yang sangat berdedikasi, perfeksionis, dan sangat tangguh. catatan penangkapannya jauh melebihi semua rekannya di London’s Metropolitan Police Service. Angel kemudian dipindahkan ke desa yang tingkat kriminalitasnya sangat rendah, bahkan terendah di Inggris, Sandford, karena dianggap membuat semua di London Metro bahkan komisaris polisinya pun terlihat buruk.

Tapi ternyata, Sandford menyimpan sebuah rahasia besar di balik predikatnya sebagai kota teraman, dan Angel malah menemukan sebuah kasus kriminal besar di kota ini….

Karena film ini, sampai hari ini kata-kata “For greater good” jadi berubah asosiasinya dan selalu bikin saya tertawa mendengarnya.

Review: Vicky Christina barcelona

Posted Maret 1, 2009 by alfapyuee
Categories: Reviews

vickycristinabarcelona-poster

I laughed so hard. Film ini sangat kocak n personally thought provoking. I recommend this to young ladies, both who think they’re sure about what they want and who are only certain about what they don’t want. And those who love Europe… (Nitia, Nindya… U should go to Barcelona while u’re in Spain this summer!!!!! take some photos for me… pleaseeeee. I’d strive for some chance to go there in the future, for sure)

berkat Film ini Penelope Cruz menang “best Actress in supporting Role” di 81th annual academy award. Dan setelah menonton film ini, saya tau kenapa… Penelope go crazy! and she’s really messy, neurotic, but beautiful at the same time.

Disamping Penelope Cruz yang menggila, cerita Vicky dan Christina pun sangat menarik, and as I said… personally: thought provoking.
Christina dan Vicky pergi ke Barcelona menghabiskan 2 bulan liburan musim panas. Mereka teman dekat yang sependapat dalam banyak hal kecuali “love life”. Vicky yang sedang menyelesaikan thesis masternya tentang “Catalan Identity”, adalah perempuan yang sangat menjunjung tinggi arti komitmen dan itu pula yang dicarinya dari laki-laki, dia punya tunangan, Doug, a good and “proper” guy who loves her so much. Christina, seniman yang sedang krisis identitas dan pernah membuat film pendek dengan segala daya upaya (dan kemudian membenci hasil karyanya itu), tidak pernah yakin apa yang diinginkannya kehidupan cinta, Ia bertualang dan hanya tau apa yang tidak diinginkannya: komitmen.

Yang Lucu, ketika mereka bertemu si Juan Antonio Gonzalo, pelukis yang punya sejarah pernikahan dan perceraian yang cukup spektakuler dan brutal dengan wanita cantik yang punya masalah dengan emosinya bernama Maria Elena yang juga pelukis.
Juan Antonio yang baru bertemu mereka secara terang-terangan mengajak mereka berdua pergi ke kampung halamannya Oviedo, untuk berjalan2 menghabiskan akhir pekan dan juga secara jelas berkata, he wants to made love with both of them. Gyahahahahahaha…. Brutally honest and I find it very funny. Yang jelas, Vicky menolak habis-habisan, dan Christina merasa sangat tertarik. tapi entah bagaimana ceritanya mereka bertiga terbang ke Oviedo dengan pesawat kecil yang dikemudikan sendiri oleh Juan Antonio, menembus cuaca buruk.
What happened in Oviedo????
Instead of having an “adventure” with Christina (Christina terlalu banyak melanggar pantangan makan dan minum, dia tergeletak karena peptic ulcer), akhirnya malah Vicky yang mengalami momen-momen romantis bersama Juan Antonio yang ternyata sangat sensitif, romantis dan charmingly honest.

Beberapa hari setelahnya Juan Antonio tidak pernah menghubungi Vicky, tetapi Christina jadi sering sekali pergi dengan Juan Antonio, yang gawat adalah Vicky tidak bisa menghapuskan Oviedo dan Juan Antonio dari otaknya. Tiba-tiba, Tunangan Vicky menelepon dan berkata dia akan datang ke Barcelona dan mengajak Vicky menikah di sana…

Bagaimana nasib Vicky dan Christina? dan apa yang dilakukan Maria Elena kemudian? It is for you to find out, girls… ^_^v

Minor Thesis: Addiction

Posted Februari 15, 2009 by alfapyuee
Categories: Gibberish

bukan… saya nggak kecanduan bikin minor thesis kok (wew canggih sekali kalo iya) maksudnya minor thesis saya ini bertema adiksi.

“Smoking in adolescent” atau “Developmental background of methadone therapy participants”

Setelah kemelut yang terjadi akibat kedua pembimbing yang terlalu sayang pada saya. Maka di putuskan minor thesis saya kali ini bersubyek peserta terapi Methadone. Rencananya kepingin menggali pola asuh dan dukungan keluarga. tapi masih harus dikaji lebih dalam…

Em… jadi ceritanya begini.

Ada permintaan makanya yang jualan juga nggak habis-habis.
Jadi Usaha memberantas NAPZA selama ini prinsipnya adalah menghentikan Supply (oleh aparat kepolisian) dan menghentikan Demand (rehabilitasi medis dan non-medis, kaya yang dipesantren-pesantren rehab, dan penyuluhan ke remaja dan anak-anak gitu lo)

Kita sudah sering mendengar cerita-cerita tentang orang yang sudah keluar-masuk tempat rehabilitasi tapi nggak berhenti-berhenti. lebih sering lagi cerita bandar tertangkap di berita kriminal, tapi sepertinya mereka itu “mati satu tumbuh seribu”.

Pemberantasan NAPZA sangat penting untuk menyelamatkan otak generasi penerus bangsa, tapi ada lagi yang membuat pemberantasan narkotika suntik harus dikendalikan lalu di hilangkan dengan segera: penularan HIV.

AIDS sampai saat ini belum ada terapi kausatif (menghilangkan penyebab penyakit), memang ada yang namanya obat Anti Retroviral (ARV), tetapi terapi ini tidak menyembuhkan. Obat ini diberikan untuk mencegah jatuhya level CD4+ dalam darah oleh Virus sehingga kekebalan tubuh penderita tidak hilang sama sekali. sederhananya ARV memberikan harapan akan kualitas hidup yang lebih baik dengan menghindarkan penderita dari infeksi sekunder yang mematikan dan sebagai akibatnya memberi waktu relatif lebih lama dibanding tanpa ARV.

karena Supply reduction dan Demand reduction dinilai tidak sukses dalam menghentikan penularan HIV (yang katanya angka penderitanya malah naik, tapi belum ngecek sih berapa naiknya). makanya mulai terdengar yang namanya “Harm Reduction Program”. jalan yang diakui bukan sebagai penyelesaian masalah, tapi sangat penting untuk menghentikan penyebaran HIV terutama lewat jarum suntik. (this world is absolutely not all “black and white”, there’s a grey area inbetween)

“Methadone replacement therapy” ini termasuk “harm reduction program”. Prinsipnya, menggantikan Opium dan opioid suntik (morphine dkk.) dengan methadone yang juga opioid tapi bisa diminum. Berefek 24 jam. jadi peserta harus datang tiap hari ke tempat yang punya program ini. Nggak boleh di bawa pulang, kecuali untuk kondisi tertentu dan syaratnya buanyaaaaak tenan.

Saya mengerti dengan pemikiran “ini semua sama dengan memberdayakan pecandu!” tapi gini ternyata…, menurut penelitian beberapa taun ini, sensitifitas reseptor otak untuk opioid dan opioid agonis pada masing-masing individu bisa berbeda, terkait dengan Gen.
Sederhananya ada orang yang berpotensi jadi pecandu berat kalau dia mencoba-coba, ada yang nggak kecanduan dan jadi social user for good. nah syarat program ini ada banyak, salah satu diantaranya adalah “sudah pernah gagal di tempat rehabilitasi lainnya”. dengan kata lain peserta haruslah penderita yang akan benar-benar sakit tanpa opioid agonis. They are indeed severly Ill…

nah… peserta terapi kan seultimate-ultimatenya penderita adiksi…
I’m going to look backward to their childhood…

doakan saya semoga lancar ya….

In court, versus Adam.

Posted Januari 25, 2009 by alfapyuee
Categories: Gibberish

I see a witch. You see an angel.

I smell a fish. You smell a flower.

I hear a scream. You hear a tone.

I curse the demon. You eat the apple.

Is it the obnoxious cynical me or the blinded-olfactory dysfunctional-tone deaf-in love you?

Time. It  seems to be our only judge.

Review film: REC

Posted Januari 21, 2009 by alfapyuee
Categories: Reviews

rec

Saya benci film Horor. Bisa dilihat dari postingan Review film saya… yang paling gloomy aja “Pan’s labyrinth”, film drama aneh yang membangkitkan perasaan ngeri terhadap manusia, tapi tetap bukan film horor.

Beberapa tahun ini saya menemukan sesuatu yang sepertinya peranakan dari film horor yang ber”thrill”. Sebut saja judul-judul yang pernah saya tonton: “Resident Evil”, “I Am Legend”, “28 days later”, “28 weeks later”…. bisa ditebak dong…

Yap! Film berzombie! Bukan hantu yang beterbangan dan bisa hilang tanpa jejak. Zombie makhluk kasar (bukan makhluk halus hehehe…) berasal dari manusia dan lebih mengerikan dari binatang terbuas yang sedang lapar. Film-film ini biasanya banyak mengekpos darah. Yaiks…

Lalu kalo nggak suka kenapa nonton? well, bisa dibilang… Saya dijebak, dengan idiotnya, berkali-kali.

Nah ini dia satu yang paling mengerikan sampai saat ini menurut saya: “REC” film Spanyol. Yang ternyata sudah ada versi bahasa inggrisnya dengan judul “Quarantine”.

Dua hari yang lalu, saya dan teman-teman menonton film ini. Kami semua terkesima dan bersyukur durasi film ini cuma sekitar satu jam, karena sepanjang itu saja sudah membuat nafas kami putus-putus karena kaget tapi tidak sanggup berteriak lagi.

“REC” bercerita tentang seorang presenter TV lokal dan seorang Cameraman yang sedang membuat film dokumenter tentang kehidupan pemadam kebakaran. Malam itu di markas pemadam kebakaran semuanya baik-baik saja bahkan cenderung membosankan sampai tiba-tiba ada panggilan. Kemudian mereka menuju sebuah gedung apartemen dan langsung menuju lantai atas gedung tempat perempuan tua yang terkurung, para tetangga yang melaporkan berada di koridor bawah. setelah para penolong membongkar pintu tiba-tiba perempuan yang ada didalam menjadi sangat aggresif dan mengigit salah satu polisi yang mencoba menolong. semua orang panik dan membawa si polisi turun untuk kemudian keluar dan mencari pertolongan medis. Sesampainya dibawah tenyata gedung telah di isolasi. tidak ada satupun orang yang boleh keluar. Gedung tersebut diisolasi karena adanya laporan dari dokter hewan tentang Anjing yang tadinya sakit dan menjadi agresif dan membunuhi semua binatang lain di tempatnya. Anjing itu milik seorang gadis kecil yang tinggal disitu. Tapi mereka tidak tau, karena petugas dinas kesehatan diluar tidak memberikan penjelasan apa-apa.

Ditengah kepanikan… tiba-tiba pemadam kebakaran yang menjaga wanita dilantai atas jatuh dari atas dan ternyata juga mempunyai luka gigitan.

Bisa ditebak, 2 pria yang digigit kemudian menjadi Zombie…

Terus terang ceritanya bisa ditebak, tapi kengerian dan kejutan yang disajikan sungguh sangat mantap hingga akhir film.

Berani nonton?

Review: The Curious Case of Benjamin Button

Posted Januari 17, 2009 by alfapyuee
Categories: Reviews

benjamin_button

Bagaimana jika ada manusia dilahirkan dengan ‘feature’ usia 80 tahun, lalu proses tumbuhnya terbalik, dan ia tampak semakin muda seiring bertambahnya usia?

Idenya F. Scott Fitzgerald yang absurd…

Eric Roth mengadaptasi dengan baik, dan David Fincher mewujudkan visualisasinya dengan sempurna. Film ini juga semakin meyakinkan saya bahwa: Brad Pitt isn’t only “another beautiful hollywood face”.  He is, indeed, a great actor…

Film ini film drama beralur lambat…, tapi entah mengapa ada ‘gereget’ yang bikin penasaran terus sepanjang film.  Padahal waktu itu saya lagi “action film mood” lho…, abis nonton “Eagle Eye” dan “Street Kings”.  Mungkin karena cerita yang aneh dan belum pernah ada sebelumnya juga nggak ketauan ujungnya.

Nggak ada bagian favorit… karena semua bagian film ini menarik, baik bagian ketika Benjamin kecil bertampang tua belajar hidup; Benjamin dewasa yang akhirnya bisa menikmati hidup dengan Daisy karena mereka bertemu ditengah-tengah walaupun ‘jam’ Benjamin berputar kearah yang berlawanan; Juga Benjamin tua yang kehilangan semua yang di pelajarinya dan terperangkap dalam wujud anak-anak…

Daripada penasaran… mendingan nonton sendiri aja deh… Hehehehe…

Catatan KKNM 2008

Posted Desember 9, 2008 by alfapyuee
Categories: Ketika Saya Tidak di Rumah

Lokakarya awal

Lokakarya awal

Terus terang saya menantikan kegiatan mengajar di KKNM. Saya selalu kepingin jadi guru SD. Entah kenapa. Tapi tadinya saya juga tak yakin ada sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar tambahan di lingkungan kelurahan Padasuka. Masalahnya lokasinya yang langsung berbatasan dengan Kotamadya dan berjarak 15 menit dari Gedung Sate membuat saya berpikir di kelurahan ini mungkin tidak ada sekolah dasar yang kekurangan tenaga pengajar.

Ternyata dugaan saya salah. Ada sebuah Madrasah Ibtidaiyah swasta milik yayasan sebuah keluarga yang luarbiasa dedikasinya pada dunia pendidikan, yang keadaannya sangat pas-pasan. Jangan bayangkan sekolah se-sedih SD Muhammadiyah Gantong di film Laskar Pelangi. Yang ini agak lebih baik keadaannya. Tapi saya tetap merasa sedih melihatnya, karena sekolah ini begitu dekat dengan kota. Seperti sebuah ironi.

Kelasnya hanya 3 ruang yang dipakai bergiliran. akibatnya anak kelas 5 dan kelas 6 belajar maksimal hanya 3 jam setiap harinya.

Saya bandingkan dengan waktu dan dorongan yang diberikan pada saya semasa SD dulu…. Sangat jauh lebih banyak. Hafal perkalian adalah kewajiban di kelas 3 SD. Di sekolah itu anak-anak kelas 6 kadang masih kerepotan dengan hafalan perkaliannya. Padahal sekolah saya dulu juga hanya sekolah swasta biasa di kompleks perumahan.

Ingin rasanya saya melanjutkan mengajar mereka. tapi nasib berkata lain.

Saya salut dengan keluarga pemilik yayasan yang diatas tanah milik mereka berdiri sekolah kecil itu; yang dengan tenaganya mereka mengajar murid-muridnya, sampai rela meluangkan waktu untuk sekolah guru lagi… nyaris tanpa dibayar.

Semoga semangat yang sama juga tertinggal didalam diri saya sampai nanti ketika telah lama saya tinggalkan sekolah kecil itu.

Dieu reunit ceux qui s’aiment!

Posted Desember 9, 2008 by alfapyuee
Categories: Gibberish

Sudah beberapa hari ada tulisan begitu dibawah judul Blog saya…

Saya nggak ngerti bahasa Prancis kok… nggak pernah belajar. Kalimat ini adalah kalimat favorit saya di lagu yang bisa dikatakan berlirik supergombal berjudul “Hymne a l’amour”. Saya sendiri tau lagu ini dari album ke-2 Josh Groban, tapi sebenernya penyanyi aslinya itu Edith Piaf. Lagu “Hymne a l’amour” didedikasikan Piaf untuk kekasihnya, petinju yang mati karena kecelakaan pesawat…Kalo mau tau lirik lengkapnya Googling aja ya…

Jadi kalimat ini adalah lirik terakhir di lagu itu. Artinya kira-kira: God reunites those who love each other.

Well… It’s a nice sentence, isn’t it?

Just wanna share…