Minor Thesis: Addiction
bukan… saya nggak kecanduan bikin minor thesis kok (wew canggih sekali kalo iya) maksudnya minor thesis saya ini bertema adiksi.
“Smoking in adolescent” atau “Developmental background of methadone therapy participants”
Setelah kemelut yang terjadi akibat kedua pembimbing yang terlalu sayang pada saya. Maka di putuskan minor thesis saya kali ini bersubyek peserta terapi Methadone. Rencananya kepingin menggali pola asuh dan dukungan keluarga. tapi masih harus dikaji lebih dalam…
Em… jadi ceritanya begini.
Ada permintaan makanya yang jualan juga nggak habis-habis.
Jadi Usaha memberantas NAPZA selama ini prinsipnya adalah menghentikan Supply (oleh aparat kepolisian) dan menghentikan Demand (rehabilitasi medis dan non-medis, kaya yang dipesantren-pesantren rehab, dan penyuluhan ke remaja dan anak-anak gitu lo)
Kita sudah sering mendengar cerita-cerita tentang orang yang sudah keluar-masuk tempat rehabilitasi tapi nggak berhenti-berhenti. lebih sering lagi cerita bandar tertangkap di berita kriminal, tapi sepertinya mereka itu “mati satu tumbuh seribu”.
Pemberantasan NAPZA sangat penting untuk menyelamatkan otak generasi penerus bangsa, tapi ada lagi yang membuat pemberantasan narkotika suntik harus dikendalikan lalu di hilangkan dengan segera: penularan HIV.
AIDS sampai saat ini belum ada terapi kausatif (menghilangkan penyebab penyakit), memang ada yang namanya obat Anti Retroviral (ARV), tetapi terapi ini tidak menyembuhkan. Obat ini diberikan untuk mencegah jatuhya level CD4+ dalam darah oleh Virus sehingga kekebalan tubuh penderita tidak hilang sama sekali. sederhananya ARV memberikan harapan akan kualitas hidup yang lebih baik dengan menghindarkan penderita dari infeksi sekunder yang mematikan dan sebagai akibatnya memberi waktu relatif lebih lama dibanding tanpa ARV.
karena Supply reduction dan Demand reduction dinilai tidak sukses dalam menghentikan penularan HIV (yang katanya angka penderitanya malah naik, tapi belum ngecek sih berapa naiknya). makanya mulai terdengar yang namanya “Harm Reduction Program”. jalan yang diakui bukan sebagai penyelesaian masalah, tapi sangat penting untuk menghentikan penyebaran HIV terutama lewat jarum suntik. (this world is absolutely not all “black and white”, there’s a grey area inbetween)
“Methadone replacement therapy” ini termasuk “harm reduction program”. Prinsipnya, menggantikan Opium dan opioid suntik (morphine dkk.) dengan methadone yang juga opioid tapi bisa diminum. Berefek 24 jam. jadi peserta harus datang tiap hari ke tempat yang punya program ini. Nggak boleh di bawa pulang, kecuali untuk kondisi tertentu dan syaratnya buanyaaaaak tenan.
Saya mengerti dengan pemikiran “ini semua sama dengan memberdayakan pecandu!” tapi gini ternyata…, menurut penelitian beberapa taun ini, sensitifitas reseptor otak untuk opioid dan opioid agonis pada masing-masing individu bisa berbeda, terkait dengan Gen.
Sederhananya ada orang yang berpotensi jadi pecandu berat kalau dia mencoba-coba, ada yang nggak kecanduan dan jadi social user for good. nah syarat program ini ada banyak, salah satu diantaranya adalah “sudah pernah gagal di tempat rehabilitasi lainnya”. dengan kata lain peserta haruslah penderita yang akan benar-benar sakit tanpa opioid agonis. They are indeed severly Ill…
nah… peserta terapi kan seultimate-ultimatenya penderita adiksi…
I’m going to look backward to their childhood…
doakan saya semoga lancar ya….
Februari 21, 2009 at 9:08 pm
whoa, sounds interesting. Good luck! (on my thesis too :p)