Catatan KKNM 2008

Posted Desember 9, 2008 by alfapyuee
Categories: Ketika Saya Tidak di Rumah

Lokakarya awal

Lokakarya awal

Terus terang saya menantikan kegiatan mengajar di KKNM. Saya selalu kepingin jadi guru SD. Entah kenapa. Tapi tadinya saya juga tak yakin ada sekolah yang membutuhkan tenaga pengajar tambahan di lingkungan kelurahan Padasuka. Masalahnya lokasinya yang langsung berbatasan dengan Kotamadya dan berjarak 15 menit dari Gedung Sate membuat saya berpikir di kelurahan ini mungkin tidak ada sekolah dasar yang kekurangan tenaga pengajar.

Ternyata dugaan saya salah. Ada sebuah Madrasah Ibtidaiyah swasta milik yayasan sebuah keluarga yang luarbiasa dedikasinya pada dunia pendidikan, yang keadaannya sangat pas-pasan. Jangan bayangkan sekolah se-sedih SD Muhammadiyah Gantong di film Laskar Pelangi. Yang ini agak lebih baik keadaannya. Tapi saya tetap merasa sedih melihatnya, karena sekolah ini begitu dekat dengan kota. Seperti sebuah ironi.

Kelasnya hanya 3 ruang yang dipakai bergiliran. akibatnya anak kelas 5 dan kelas 6 belajar maksimal hanya 3 jam setiap harinya.

Saya bandingkan dengan waktu dan dorongan yang diberikan pada saya semasa SD dulu…. Sangat jauh lebih banyak. Hafal perkalian adalah kewajiban di kelas 3 SD. Di sekolah itu anak-anak kelas 6 kadang masih kerepotan dengan hafalan perkaliannya. Padahal sekolah saya dulu juga hanya sekolah swasta biasa di kompleks perumahan.

Ingin rasanya saya melanjutkan mengajar mereka. tapi nasib berkata lain.

Saya salut dengan keluarga pemilik yayasan yang diatas tanah milik mereka berdiri sekolah kecil itu; yang dengan tenaganya mereka mengajar murid-muridnya, sampai rela meluangkan waktu untuk sekolah guru lagi… nyaris tanpa dibayar.

Semoga semangat yang sama juga tertinggal didalam diri saya sampai nanti ketika telah lama saya tinggalkan sekolah kecil itu.

Dieu reunit ceux qui s’aiment!

Posted Desember 9, 2008 by alfapyuee
Categories: Gibberish

Sudah beberapa hari ada tulisan begitu dibawah judul Blog saya…

Saya nggak ngerti bahasa Prancis kok… nggak pernah belajar. Kalimat ini adalah kalimat favorit saya di lagu yang bisa dikatakan berlirik supergombal berjudul “Hymne a l’amour”. Saya sendiri tau lagu ini dari album ke-2 Josh Groban, tapi sebenernya penyanyi aslinya itu Edith Piaf. Lagu “Hymne a l’amour” didedikasikan Piaf untuk kekasihnya, petinju yang mati karena kecelakaan pesawat…Kalo mau tau lirik lengkapnya Googling aja ya…

Jadi kalimat ini adalah lirik terakhir di lagu itu. Artinya kira-kira: God reunites those who love each other.

Well… It’s a nice sentence, isn’t it?

Just wanna share…

Kesambetnya keterusan…

Posted Desember 9, 2008 by alfapyuee
Categories: Uncategorized

Dia benci mereka sepenuh hati, aku tau benar itu. Mereka adalah perempuan-perempuan yang kerap bimbang dalam persoalan dengan laki-laki.

Gadis keras kepala itu bersumpah tidak akan melakukan apa yang dibencinya dari mereka. Dalam kamus urusan cintanya kebimbangan bersinonim dengan kata TIDAK.

Ia terlalu keras pada dirinya sendiri kurasa. Ketika aku bertanya padanya tentang hal ini, ia menjawab: “Kebimbangan melahirkan airmata berkepanjangan, lalu meninggalkan bekas yang bisa jadi abadi. Dimataku itu kejahatan yang sulit dimaafkan, dan aku tidak mau melakukannya pada orang lain”.

Aku juga tau bagaimana setianya ia pada sebuah komitmen. Baginya itu seperti sebuah sumpah, walaupun tidak ada saksi yang tau sumpahnya seperti dalam “Ijab Kabul”. Sahabatku ini telah bersumpah. Sejak 2 tahun lalu hingga saat ini tidak pernah ia sungguh-sungguh memandang laki-laki disekitarnya. Yang ia nantikan hanya kekasihnya saja. Kadang ia kesal, sedih, dan marah pada lelaki beruntung itu, tapi tak pernah sedikitpun sinar cinta hilang dari sepasang mata indahnya.

Sahabat terburuk didunia, itulah aku, karena aku tidak pernah ingin menjadi sahabatnya sejak awal. Lama aku hanya memandangnya dari kejauhan, dan hanya menjadi sebuah “Hai, selamat pagi!” setiap hari bagi gadis yang seperti matahari untukku: menyilaukan dan tak terjangkau. Seandainya Ia menumpahkan teh panas ke bajuku sebulan lebih cepat mungkin aku tak hanya menjadi sahabatnya seperti nasibku sekarang ini.

Aku berharap ia tidak sekeras itu pada dirinya sendiri. Aku berharap ia bimbang. Kebimbangannya berarti secercah harapan untukku. Walaupun seperti katanya, akan ada luka membekas seumur hidup,namun aku memang sudah putus asa, bahkan siksa batin tiada akhir nampak seperti bayaran yang setimpal jika hanya dengan itu aku dapat mendengar dari bibirnya, sebuah kalimat sederhana disertai sentuhannya pada tanganku: “Aku mencintaimu”

Betapapun putus asanya aku, tak pernah tega hati ini untuk mendekatinya lebih dari tempatku saat ini. Aku takut meruntuhkan dinding yang ia bangun di sekitar hatinya. Aku akui ketakutanku terhadap kenyataan jika tenyata tidak ada aku disana. Namun ketakutan terbesarku adalah karena aku mengerti, dinding itu juga pilar penyangga langit dunianya. Merobohkannya berarti menciptakan kiamat baginya. Cinta menahanku untuk berbuat begitu kejam padanya….

Dan kini segala rasa, cinta, juga rindu yang berlimpah-ruah ini tersimpan rapi dalam ketiadaanya yang semu. Mungkin juga abadi.

…S2S2S2…

“Dan keduanya tak pernah tau…?”

“Aku tidak berkata begitu”

Kesambet nulis pagi-pagi part I

Posted November 25, 2008 by alfapyuee
Categories: Gibberish

Godaan itu ada. Senyata jasad wujudnya. Ia berupa sepasang mata bola berwarna coklat gelap yang terkesan dalam tak berdasar. Entah bagaimana dengan orang lain, namun pada awal aku menemukannya, enggan aku menatapnya. Aku takut perasaan yang persis sama ketika baru akan belajar berenang, mata itu airnya.

Aku tau air sangat lembut menyentuh kulit, menyejukan dan menyenangkan, tapi dalam jumlah sebanyak itu, aku merasa ia bisa membunuhku dengan masuk ke paru-paru dan tidak keluar lagi.Tidak ada bara menyala disana. namun seperti yang sudah kukatakan, ia membunuh, Ia bisa membunuhku.

Waktu berjalan dan ku perlahan dapat menatap permukaannya. Benar dugaanku rasanya seperti menyentuh air. Semakin sering, semakin aku senang bermain disana.

Sampai ketika aku sadar aku telah menyelam terlalu dalam. Spektrum yang terbias menjadi intens, saat kusadari, mata itu memadamkan api dalam diriku. Sedikit api yang menjadi sumber dayaku sehingga berjalanlah aku dimuka bumi dan melakukan peranku: Prinsip. KIni pertahananku tinggal satu: Mulutku. Aku harus menjaganya, jangan sampai ia bicara, aku harus membuatnya rapat dan kokoh serupa tembok cina. Sampai matipun Ia tak boleh tau, tidak dari bibirku. aku hanya akan membiarkannya dalam ketidaktahuan, seumurhidupnya, bahwa ia telah menaklukanku.

To be continued…

Review: The Legend of 1900

Posted November 16, 2008 by alfapyuee
Categories: Uncategorized

The Legend 0f 1900

The Legend 0f 1900

Tau ‘Cinema Paradiso’? Saya tau tapi belum nonton….

Sutradara ‘Cinema Paradiso’ Giuseppe Tornatore membuat film 1900 (baca: nineteenhundred). Tagline-nya: ‘An epic story of a man who could do anything… except be ordinary’

Saya cinta film ini. Padahal saya menemukan Film ini secara tidak sengaja di suatu sore. Mungkin benar kata orang; ‘kalau jodoh tak lari kemana’

Ceritanya tentang seorang anak yang semasa bayi ditinggalkan orang tuanya diatas Piano didalam kapal pesiar dan diberi nama 1900 oleh awak kapal yang menemukannya. Awak kapal itu kemudian mati karena kecelakaan kerja yang mengerikan…. Dalam keadaan sedih dia jalan-jalan ke kabin, menemukan piano tempatnya ditemukan dulu dan tiba-tiba terpanggil untuk memainkannya, ternyata dia jenius musik (nggak masuk akal… tapi biarlah, biar rame, namanya juga film).

1900 terus tinggal di kapal sebagai pemain musik, sampai dewasa. Kejeniusannya tersebar ke daratan. Ada yang nantangin duel lah…, ada produser yang ngajak rekaman lah, sampai alat rekamannya diangkut keatas kapal. Suatu hari dia melihat seorang gadis cantik yang ‘exotically blonde’ waktu sedang rekaman… (repertoire dan gambar dalam adegan yang satu itu, bikin saya ikutan jatuh cinta…. ^_^). Hal yang selama ini tidak menjadi masalah buatnya mendadak jadi halangan raksasa dalam hidupnya: Dokumen dan Daratan. Tidak ada secarik kertaspun yang menerangkan kapan ia lahir, dari orang tua yang mana, surat keterangan adopsi, kewarganegaraannya, tidak ada samasekali. Kalaupun ia berhasil menyelinap dari pemeriksaan dokumen, Orang-orang mengenalnya di perjalanan, diatas lautan, dia hidup sebagai bagian mimpi manusia lain, dia sendiri tidak tau bagaimana caranya hidup didaratan sejak bayi sampai ia dewasa.

Akhirnya? Agak tidak masuk akal, tapi sedih. Saya belum menemukan film yang seperti ini lagi. Saya jadi kepingin sekali nonton Cinema Paradiso….  Ada yang tau cari dimana?

Lagu terakhir untuk seorang Teman

Posted Oktober 30, 2008 by alfapyuee
Categories: Gibberish

Ketika aku tak bisa bersuara maka biarkanlah aku merana.

Segala petuah tak kan membuat rasa ini musnah.

Saat dirimu bertanya ‘ada apa gerangan kawan?’.

Layakkah bila tak ku hatur sepatah kata?

Katakan dengan mantera yang tak habis sihirnya dalam detik, menit, jam, hari, minggu…

Bersama rasa yang tidak boleh ada, aku titipkan mimpiku denganmu di langit jingga.

Coba sentuhkan mega dengan jemarimu, jika kau ingin melihatnya runtuh.

Ketika tak kuasa bertanya maka biarkanlah aku bimbang.

Menimbang arah kemana ku kan berjalan meneruskan.

Waktu ku berharap, ’seandainya waktu dapat kembali’

Adakah kau mengerti akan berharganya ini?

Kau katakan dalam puisi yang tak kunjung pudar dalam sedih, sepi, sakit, rindu…

Bersama rasa yang tak boleh bertahan, sendiri sepiku dibuai hening malam

Petiklah dawai hati sekalipun ia tak berbunyi, tetap ia akan bergetar nanti

Hanya ada tawa yang kuingat

hanya tawa yang ingin kusimpan

melodi ini telah mengalun sejak lama

dan kau tak akan pernah mendengarnya.

Syair berpuisi inilah laguku untukmu,

kawan yang tak pernah benar ku mengerti.

sedang kesal pada diri sendiri dan seorang teman yang ternyata tidak dengan baik saya kenali… That’s life

Little Me in Austria Part II: The Institute of Hygene

Posted Agustus 10, 2008 by alfapyuee
Categories: Ketika Saya Tidak di Rumah

Sebenarnya saya diterima di bagian Anaesthesia untuk research exchange ini. Saya girang setengah mati karena saya sangat tertarik pada Anaesthesia (ya! Karena sebenarnya Dokter Anaesthesia bukan cuma tukang bius belaka, tapi mereka mengerti keadaan seimbang -homeostasis- tubuh manusia dan merekalah yang bertanggung jawab atas hal itu sebelum, ketika dan sesudah operasi, bahkan di ‘Intensive Care Unit’. Ya gampangnya gitulah..).

Tetapi 2 hari sebelum saya berangkat, saya menerima email dari Andreas, ‘contact person’ saya. Katanya karena ada masalah saya di pindahkan ke ‘Institute of Hygene’. Saya kecewa, karena tidak jadi belajar sesuatu tentang Anaesthesia, apa lagi melihat nama departemennya (Oh tidak… Am I going to clean up or sterilize something? belajar bersih-bersih nih maksudnya?). Semangat saya menurun. Ini bukan cuma masalah pergi ke Austria-nya tapi juga masalah apa yang akan saya dapat disana. Kalo mau liburan ya jalan-jalan sajalah saya sendiri (ya, sebenarnya nggak sesimpel itu juga bisa jalan2 ke eropa seenaknya. Duit dari langit kali…). Namun berhubung perjuangan menjadi Exchangee dan mendapat Visa tidak mudah, It’s just like i’ve gone too far to retreat. Ya sudahlah apapun itu departemennya: Tarrriiikkk Jabrrriiiikkk!!!!

Dan sampailah saya pada pertemuan saya yang pertama dengan tempat saya “bekerja”

pertama-tama… berjalan 200m dari halte Lendplatz menunggu bis nomer 36 tujuan Peterbergenstrasse berhenti di halte Universitaet dan anda akan mendapatkan sebuah gedung yang sangat klasik, yang ternyata adalah bangunan Universitas, Wow!
dan setelah melewati halaman…,mari belok kiri, belok kanan, belok kiri, dan disebelah kanan ada gedung tujuan saya…

Institute For Hygene

Institute For Hygene

My First word is "Wow!"

My First word is 'wow'

jadi saya harus msuk ke dalam gedung tersebut…
menemukan sebuah pintu disebelah kiri (di kanan ada ‘vending machine’, soda dan kopi. Saya senang soalnya saya belum pernah membeli sesuatu dari yang seperti itu di Indonesia. Hihihi… Udiknya)
Pintunya agak suram. Berwarna coklat dan tinggi.
Diatasnya ada tulisan besar. Ternyata saya tidak kesasar.

Jelas bukan Pintu-kemana-saja nya doraemon

Jelas bukan Pintu-kemana-saja nya doraemon

Setelah diselidiki ternyata nama lengkap Institut ini adalah: Institut fuer Hygiene, Microbiologie und Umweltmedizin (environmental medicine), Dan saya ‘bekerja’ di “Molecular Diagnostic Laboratory” dengan HIV, HBV (hep B), HCV (hepC), kadang Human Papilloma Virus-HPV, dan Chlamydia Trachomatis.
Well it’s not that bad… actually it’s not bad at all.
Staff akademik Lab yang menjadi tutor saya dan pertama kali memperkenalkan saya pada semuanya adalah seorang perempuan, M.Sc, tidak taulah berapa umurnya-tapi kelihatan masih muda, mewarnai rambutnya dengan warna merah, dan kadang memakai T-shirt band… satu yang saya ingat, dia pernah memakai T-shirt “RATM”. Professor saya, orang yang sangat berbeda dengan tutor saya. Tinggal di dekat bandara dan mempunyai hobi mendengarkan transmisi radio bandara dari ‘handy talky’-nya dan tertarik dengan cuaca.
and they get along really well…. hehehehe… bisa juga ya.

Little Me in Austria part I: Arrival

Posted Agustus 4, 2008 by alfapyuee
Categories: Ketika Saya Tidak di Rumah

Jumat, 2 Agustus 2008

Setelah penerbangan 20 jam, 2 kali transit dan 1 kali mabuk udara, akhirnya pesawat saya mendarat di tujuan akhir saya. di Vienna International. Seperti mimpi. Saya belum pernah benar-benar sejauh ini dari rumah sendirian. It feels great! saya melihat keluar jendela pesawat… Hoho! Padang rumputnya kelihatan begitu berbeda! Begitu menjejakkan kaki ketanah, saya mendengar suara orang berbicara dari speaker, dan perbedaanpun semakin terasa karena saya tidak mengerti apa yang dia bicarakan sampai terdengar suara yang sama berbicara dalam bahasa inggris… Phew.

Setelah menemukan bagasi, saya terdiam sebentar. Menarik napas, berpikir “Perjalanan belum berakhir Jeng…”, lalu mengingat apa yang seharusnya saya lakukan setelah ini: Mencari Bis menuju “Wien Suedbahnhof”.

Where the real Journey is just about to begin

Where the real Journey is just about to begin

Dan sampailah saya di Stasiun Kereta Selatan Wina (Arti harfiah dari “Wien Suedbahnhof”).

Saya berjalan dengan bingung menuju info point untuk bertanya dimana saya bisa mendapat “Vorteilskarte” (“Vorteilskarte” adalah kartu tanda si pemegang yang namanya tertera bisa mendapat tiket kemanapun dengan kereta perusahaan tersebut sampai dengan 50% harga normal, yang berlaku hingga 1 tahun). Sayapun mencoba untuk memperoleh kartu itu di loket seperti yang ditunjukan “Info-man”. Tapi ketika saya mengisi formulir…, saya tidak tau bagian mana dari alamat tempat tinggal saya di Austria yang “Kode pos” dan itu penting. terpaksa, saya membatalkan niat untuk membuat kartu itu dan membeli tiket reguler: 34 euro ke Graz Hauptbahnhof. T_T

My main landmark from outside

My main landmark from outside

Lalu setelah berkonsentrasi penuh ,karena saya dapat kereta yang mengharuskan ganti kereta di stasiun “Bruck an der Mur”, akhirnya saya turun di Graz Hbf dengan selamat dan nggak salah naik kereta (itu ketakutan terbesar saya). Dengan cepat saya keluar dari hall dan langsung menuju halte bis nomer 36 dan 58. Tidak lama kemudian bis datang dan membawa saya sampai halte “Lendplatz”. Tiba-tiba hujan turun (beneran, ini bukan untuk mendramatisasi suasana. Hujan memang turun. Saya yang belum pernah menginjakan kaki di wilayah subtropis tidak memperhitungkan kalau akan ada hujan dimusim panas, hasilnya saya harus pasrah kehujanan). Tapi tidah lama, akhirnya hujan tinggal gerimis, saya nekat

My Main landmark

My Main landmark

meneruskan perjalanan yang katanya tidak jauh lagi… tapi saya dipersimpangan, tata petunjuk nama jalan begitu aneh… dan saya memutuskan untuk mengambil satu jalan yang ternyata salah. Lalu saya kembali lagi ke halte dan mengambil jalan lain dan akhirnya saya tiba di tempat: OeAD Gaestehaus Neubaugasse 12 A-1020 Graz. Alhamdulillah…

Waktu menunjukan pukul 2 siang ketika saya sampai dan melihat kedalam lewat kaca pintu. Ada yang aneh dengan pintu nya…. Pintu itu tidak berkenop. Tampaknya butuh kunci untuk masuk kedalam. Dan saya tidak melihat siapapun didalam, “Jadi kapan dong bisa ketemu kasur gue???” rengek saya dalam hati. Tidak lama kemudian seseorang muncul dan menyapa.

That's where I live for 4 whole weeks

That's where I live for 4 weeks

“So are you research or professional exchange student?”

“Yeah…, i guess” saya menjawab ogah-ogahan.

“Me too and I’ve been waiting for half an hour for Elisabeth”

o iya…, saya memang harus menunggu yang namanya Elisabeth supaya saya bisa dapat kunci, “O, I was just arrived”

Kamipun memutuskan untuk menunggu bersama dan berkenalan. Namanya Gulsah, dari Turki.

“So Elisabeth actually told me that check in time is 8 to 11in the morning and she’ll come here at 8 PM for late check ins. but I hope she’ll be here earlier”

Hahhhh??? Jam 8 PM?

Dan… 6 jam lagi menuju kasur. T_T

The Unforgettable Judgement – Olymphiart 2008

Posted April 27, 2008 by alfapyuee
Categories: Gibberish

Wahai mata yang terbutakan

Lihatlah ia dengan hatimu

Namun ketika tak kau sentuh kalbu

Rasakan murka atas apa telah kau laku

 

Hati siapa hendak kau raih

Tiada insan mengetahui

Namun ketika tak kau sentuh kalbu

Dengarlah kutuk ini:

hati manapun kau damba

tak akan pernah ada untukmu

 

Berapa waktu kau habiskan

Sia-sialah ia tak berjejak

Berapa peluh kau teteskan

Musnah ia tak berbekas

Berapa kemenangan kau berikan

Busuklah ia tak berbentuk

 

Kisahmu bukan kisah seorang Ksatria

Seperti yang kau suratkan

Seperti yang kau impikan

Karena kau menatap langit menginjak bumi

Kau mengharap cinta menginjak kami

 

Tiada hak kami tak memberi maaf

Tapi sertakan ingatan di benak kami

Bahwa nilai manusiamu telah koyak

Bahwa rasa keadilanmu telah cacat

 

Wahai mata hati yang buta

Tak sadarkah kau tak lagi punya tempat?

Tak tahukah kau berurusan dengan siapa?

Entah hati siapa susah payah kau capai

Tak dapat kau menipu kami

Segala kata pembenaranmu

Ketika kau injak kami

Hidup mu tak kan pernah sama lagi

Demi air, tanah, api dan udara.

 

To T-Man with a huge disgrace

Ibu menteri kesehatan, Dr. Siti Fadillah Supari, Sp.JP(K); Kartini of 21st Century

Posted April 17, 2008 by alfapyuee
Categories: Gibberish

menteri kesehatanSeumur hidup, baru kali ini merasa punya menteri kesehatan yang berpengaruh (atau gara-gara waktu beliau naik aku baru sekolah kedokteran ?). Gimana nggak? Perempuan cerdas ini berani step up to the plate dan menyuarakan ketidakadilan yang selama ini dialami sama negara-negara berkembang (yang sebenernya susah berkembang karena masalah begini), yang sudah berjalan bertahun-tahun.

Mekanisme virus sharing selama 50 tahun terakhir, harus melalui Global Influenza Surveillance Network –GISN (yang sebenarnya tidak ada dalam struktur resmi WHO. Negara yang membentuk? Ah, “you know who”…). GISN telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim specimen virusnya, lalu virus itu jadi milik mereka dan mereka berhak membuat vaksinnya. Contohnya Vietnam, Negara yang berkasus itu harus mengirim sampel virus ke laboratorium WHO-CC (WHO Collaborating Center)di Hongkong untuk risk assessment, penentuan diagnosis, dan virus seeding untuk vaksin. Klasiknya, yang memproduksi vaksin kemudian adalah perusahaan obat di negara-negara kaya yang nggak kena virus, dan tanpa kompensasi. Konspirasi, ternyata bukan teori.

Walau terpaksa mengirim virus ke WHO, Ibu menteri juga mengirimkan spesimen virus ke Gene Bank supaya ilmuwan diseluruh dunia bisa mengksesnya. Ini dianggap sebuah langkah berani dan revolusioner oleh para ilmuwan. Hehehe….

Setelah ketauan ternyata virus di WHO disimpan di tempat yang mencurigakan (Los Alamos National Laboratory, New Mexico, USA; tempat dirancangnya bom Hiroshima), dan tidak bisa diakses ilmuwan lain di dunia, Ibu menteri makin gencar menuntut WHO supaya mengubah mekanisme virus sharing menjadi transparan, dan menuntut pengembalian virus asal Indonesia (kebayang ngerinya kalo dibuat jadi senjata biologis…. mengancam pertahanan dan keamanan bangsa pastinya). Sebelum mekanisme menjadi transparan, Ibu menteri menolak mengirim virus. Ya geger dong WHO. Ibu menteri dituding menghambat penelitian (yang sebenarnya memang perlu sebagai langkah strategis kalo mereka pengen pinter sendiri dan membodohi juga membahayakan kita).

Ibu menteri di forum WHO

Di Jenewa, 20 November 2007, International Government Meeting WHO, mekanisme virus sharing di setujui dan GISN dibubarkan. World Health Assembly Meeting juga menunjuk Indonesia untuk membuat konsep virus sharing.

Menteri kesehatan kita bikin bumi gonjang-ganjing…. Hehehe…. Gini nih yang mestinya disebut Indonesian Idol.

Hari kartini 2008 iconnya Dr. Siti…. Beliau bikin saya bangga jadi perempuan Indonesia.

Disamping itu Ibu menteri juga sudah memulai proyek impian bernama ASKESKIN, walaupun masih jadi PR buat bangsa Indonesia untuk membuatnya jadi seperti yang benar-benar kita bersama impikan. Pasalnya Rumah Sakit penerima ASKESKIN merugi besar karena tidak dibayar, tapi bisa dilihat pasien ASKESKIN masih ada aja yang punya sedan dan bawa handphone lebih bagus daripada dokternya (berdasarkan gosip di rumah sakit).

Iya, ini pekerjaan rumah bangsa Indonesia dan dunia kesehatan Indonesia, bukan cuma Ibu menteri aja. Bukankah selama ini kita yang selalu menuntut adanya sistem pembiayaan kesehatan yang baik, terjangkau dan merata? Can we not just think about ourselves and not just asking without giving?