Jalan Pulang

Ditulis September 21, 2010 oleh LadyAlfa
Kategori: Gibberish

Dua orang duduk di rerumputan dalam jarak yang memungkinkan mereka berbincang-bincang dengan latar suara aliran sungai didepan mereka. Yang satu seorang perempuan muda, dan yang lainnya seorang lelaki tua.

Lelaki tua itu pedagang yang beristirahat sebelum akan pulang, sedangkan perempuan muda itu tidak terlalu jelas sebabnya dan bagaimana ia sampai dapat berada di tempat itu sore ini. Dari penampilannya, tebakan terbaik orang-orang yang melihatnya adalah ia seorang pengembara, dan itu tidak sepenuhnya salah.

Langit dipelupuk timur berangsur gelap, dan jingga mulai menjalar dari barat. Sang perempuan muda semakin banyak menghela nafas. Lelaki tua yang lelah sebentar lagi akan pulang, namun ia memutuskan untuk mengajak perempuan ini bicara dahulu sejenak. Ia merasa banyak yang perempuan itu simpan dibenak. Laki-laki tua pernah mengenal seseorang di masa mudanya yang seperti itu; menyimpan semuanya sendiri hingga memenuhi rongga dada dan sulit bernafas. Ia ingin membantu perempuan itu mengurai sedikit makna yang menyesaki pikirannya.

“Tidak pernah berhenti ya, sungai ini mengalir. Walaupun mungkin sudah ribuan tahun” lelaki tua membuka percakapan. Lalu terbatuk beberapa kali. Kesehatannya tidak terlalu baik rupanya.

Perempuan muda menghela nafas sekali lagi. Lalu mengangguk. “kemana sungai ini mengalir?”

“Laut Yare, lalu ke samudra yang luas sekali. Tidak pernah berubah. Selalu begitu”

“Begitu alami…”

“Ya, Laut Yare adalah rumah bagi aliran sungai ini. Tentu saja alirannya kesana berlangsung alami”

“rumah…”

“Iya, tempatnya pulang berakhir disana. Kau pun tentu punya tempat seperti itu… Di Blackwoods misalnya”

Perempuan muda tersenyum, menatap wajah lelaki tua yang dihiasi kerut-kerut yang dipahat waktu disana. Sesuatu yang dulu sangat ditakutkan perempuan itu, ketakutan itu disesalinya saat ini.

“Ada. Namun, jalanku kesana tak pernah terasa alami seperti aliran sungai ini. Jalan itu panjang, dan sulit. Dan.. bukan Blackwoods”

“mungkin… yang kau tuju itu… bukan rumahmu yang sesungguhnya” suara lelaki tua bergetar.

Perempuan muda itu tersenyum lagi, dan menggeleng kecil. “tidak ada rumah yang lain lagi, hanya itu tempatku pulang. Aku pernah berpikir begitu juga. Tapi…, ternyata apa yang menjadikan sebuah tempat itu rumah bukanlah jarak tempuh dan derajat kesulitan jalan menuju kesana.”

Lelaki tua terbatuk beberapa kali lalu butiran air mata mulai membasahi wajah letihnya. “lalu apa?” Ia menatap perempuan muda itu, kerinduan yang dibendungnya berpuluh-puluh tahun bagaikan merembes keluar lewat tatapan dan air matanya.

“Pulang adalah menuju ketempat aku merasa tak perlu menahan diri dari lelah, marah, dan sedih. Rumah adalah tempat dimana hati akan selalu tersusun lagi bahkan setelah hancur berantakan. Kesulitan kesana bukan sesuatu yang membuatku berhenti berusaha ditengah.”

Perempuan itu pun mulai menangis, kerinduan yang sama besarnya tercurah keluar saat ia menatap lelaki tua itu.

“Sudah berapa lama kau mencoba untuk pulang? Sudah berapa jauh kau berjalan?” Tanya lelaki tua, masih dengan air mata. Awalnya ia ingin membantu mengurai benak lawan bicaranya ini. Namun kini benaknyalah yang diuraikan.

“Tidak ingat, 20, 30, mungkin 40 tahun. Aku tidak hanya berjalan menuju kesana, aku juga berlayar dan mendaki. Banyak yang sudah kulihat diperjalanan. Dan aku masih terus dijalan pulang”

“Waktuku sudah akan habis…. Aku sudah tua, sebentar lagi mati, bisa jadi besok, atau bahkan satu menit lagi” lelaki itu terbatuk lagi.

“Ya.., itulah yang akan kucari selanjutnya. Kematian. Itu bisa mengantarku kerumah” Perempuan itu mendekat, tangannya menjangkau wajah pria tua. Ia mengusap airmata yang semakin deras mengalir dari mata tua itu.“Karena rumah ku.. adalah disisimu”

Setelah kalimat terakhir, perempuan muda itu memudar, lalu hilang bagai ditiup angin begitu saja.

Lelaki tua itu, masih dalam air mata yang jatuh satu demi satu, membayangkan kediamannya, istrinya yang baik, dan anak-anak laki-lakinya yang cerdas dan tangguh, dan anak-anak perempuannya yang pandai dan anggun. Karir militernya yang cemerlang, hingga ia dapat pensiun lalu mulai berdagang hanya untuk memberi orang lain pekerjaan, karena ia tidak kekurangan harta. Betapapun ia perpikir bahwa segalanya sempurna, jauh di dalam lubuk hati-nya yang terdalam dan semakin dalam karena selama ini ia kubur didasar tergelap, hanya satu tempat yang ia ingat pernah merasa disana tak perlu menahan diri, dan memikirkan apapun. Karena ia tau seremuk apapun hatinya, akan kembali seperti semula ditempat itu.

Perempuan muda itu memang lebih muda darinya, namun hanya 2 tahun. Dan ia tau, hanya disisi penyihir abadi itulah tempat yang sepenuh hati diakuinya sebagai rumah.

Ia merasa rindu yang teramat sangat, pada rumahnya. Sesungguhnya selalu begitu, namun tak ada satu orang pun yang tau.

Kini, Ia tak sabar lagi untuk pulang, selamanya.

bandung, disebuah kamar, sedang akan berdoa untuk seseorang

Liburan (akhirnya) Produktif

Ditulis September 1, 2010 oleh LadyAlfa
Kategori: Uncategorized

teman2 yang budiman. kebetulan saya sedang liburan agak panjang. lumayan panjang hingga cukup untuk membuat saya di dera kebosanan. Sampai pada suatu hari… teman yang saya cintai @Nisa’a Avionimia, memberitau saya tentang ajang ini: Citibank-Ubud Writers & readers festival

Adapun tujuan saya memasukkan banyak cerpen adalah:

1. Mumpung liburan, bisa nulis setiap hari.

2. Mumpung ada ajangnya, mudah-mudahan dibaca orang. supaya makin banyak masukan dan makin baik tulisan saya.

mampir ya… kalo suka, jangan lupa Vote, sukur2 komen (itulah yang saya harapkan… biar makin banyak pendapat buat tulisan saya.) dan sebarin ke temen2nya… ^_^!!!

1. KESUNYIAN INI TIDAK SEMPURNA

2. BALAS DENDAM PENYIHIR MUDA

3. JAGA MALAM PERTAMA

4. DEALING WITH THE DEVIL

5. THE WORLD WANDERS WITH HER TONIGHT

6. MENJAGA TIDURMU

mampir yaaa…..
Kalo suka vote yaaaaaa……… (@o@)

Lady in the Dark

Ditulis Mei 22, 2010 oleh LadyAlfa
Kategori: Gibberish

A witch is flirty, cunning, cold, slick, and evil.
Her world is dark,
dangerous path within seemed like an endless tunnel,
and the air is humid with hatred of the dead.

Dragging people’s soul to the darkest dimension where she dwells..
It’s so much easier to bury her in the soil where the sun will never rise,
than to walk down her trail.

Oh wicked witch, the heartless lady.
Be damned forever.

Elegy of The Heartless

Ditulis Mei 18, 2010 oleh LadyAlfa
Kategori: Gibberish

Embrace the pain,
cover the hollow hole,
walk the earth,
swing the heartless sword
as heartless as I am

As long as this cruel world knows you win the battle
it never really cares how you get the glory

Numb your senses dear knight
for you were assigned to protect the princess
from a witch who’s been cursed with immortality

have no mercy for me mighty knight
for a forbidden spell i had cast on you
A strong spell affects the caster too

so have no mercy for me mighty knight
for the only way to break it is burying me alive
in the soil where the sun never rise

so walk the earth, swing the sword, win the battle
whatever it takes.

A nameless red star

Ditulis April 24, 2010 oleh LadyAlfa
Kategori: Gibberish

I had a dream about a nameless star
burning the sky with no mercy like a flame from hell
but if you see through the fire to the core
there she is, sitting alone in the cold

one day a comet’s passing by
circling the red bright star like he just found a new orbit
to be able, to be stable, to stop wandering the universe
the star then turn white
still burning, even hotter without rage and anger

By the time she found out
the comet was actually circling around a bigger star in it’s perihelion
bigger than her thus she couldn’t really see the shape
She was sad, and turn back to red, outside and inside

Until one time she decided to leave her own orbit
rather than to get burnt by her own flame
to get back to her icy dark core

Review: (500) Days of Summer

Ditulis Desember 24, 2009 oleh LadyAlfa
Kategori: Reviews

I never knew that this movie exist before. Ketemu DVD ini waktu lagi cari serial House. Lagi-lagi penemuan tidak sengaja akan sebuah film yang menarik. The funniest romantic comedy I’ve ever watched!!! I laughed sooo loud!

This is not a love story, but a story about Love… Boy falls in love. Girl doesn’t.

Nah, buat adik-adik yang masih belajar Bahasa Indonesia dan bingung seperti apa itu alur campuran (campuran alur maju dan alur mundur), film ini dia contohnya.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Tom, sarjana arsitektur yang bekerja menjadi “Greeting Card Copywriter” (Deja Vu? jangan heran kawan, banyak dari kita yang pernah mendengar hal-hal seperti itu, atau bahkan mengalaminya sendiri?). Mendeskripsikan masa mudanya sebagai “early exposure of rock n roll” yang membuat dirinya percaya dia akan menemukan seorang perempuan yang membuatnya jatuh cinta dan akan di buatnya jatuh cinta and they will end up together, live happily ever after.

Tapi… Summer tidak sependapat. She doesn’t want relationship with Tom. sepenjang film, dihari keberapapun, Tom selalu jatuh cinta dan Summer selalu mengatakan “I like You” instead of “I Love you”.
Akhirnya tentu saja Tom patah hati berat, tetapi diperjalanan ia kembali menemukan keberanian untuk mengejar mimpinya menjadi arsitek yang menghasilkan bangunan, bukan “greeting card”.

Kalau ada rasanya, film ini sesungguhnya pahit. Tetapi dialog, tokoh, dan situasinya hampir selalu kocak. Bahkan diawal film kata-kata pembukanya saja sudah membuat saya tertawa:

“Any resemblance to people living or dead is purely accidental … Especially you, Jenny Beckman … B*tch.”

Yepyep! according to Wikipedia…:

Co-writer of the film Scott Neustadter, admitted the film was based on a real romance. Neustadter explains that when he met the real girl who inspired the character Summer as a student at the London School of Economics in 2002, he was rebounding from a bad breakup back home, and promptly fell “crazily, madly, hopelessly in love” with the girl who “returned his kisses but not his ardor.” The relationship ended “painfully and unforgettably awful,” which prompted him to co-write the film with Michael H. Weber. When Neustadter later showed the script to her, she said she related more to the Tom character.

HAHAHAHAHHA… what a girl!

Review: Paranormal Activity

Ditulis Desember 13, 2009 oleh LadyAlfa
Kategori: Reviews

Soooo… lagi-lagi horor! mungkin ada diantara anda semua yang melihat postingan sebelumnya dan sekarang berkata: “Nih anak! katanya nggak suka horor, nih reviewnya horor lagi”. sabar bung, mas, mbak, teh…, saya masih nggak suka horor kok. tapi ada kausa kuat mengapa saya mau nonton film ini DIBIOSKOP SENDIRIAN.

Jadi, di sebuah ajang yang bernama Arisan part II (bukan judul film, literaly Arisan ya… yang pake kocokan itu loh), saya ditantang oleh teman saya yang berjenggot banyak (iya berjenggot…, arisan saya bukan seperti arisan berisi melulu ibu2 yang kalian bayangkan. kami terdiri dari teman main semasa kuliah yang ingin tetap menjaga tali silaturahmi walaupun bagian di KoAss memisahkan T_T) untuk menonton sendirian film yang menurut teman saya yang lain -yang jenggotnya sedikit, sama kambing banyakan jenggot kambing- sangat menyeramkan dan wajib tonton. Imbalannya traktir makan di Sushi-tei kalo berhasil…

Akhirnya saya menerima tantangan tersebut. Hari ini juga saya melaksanakan tantangannya.

Sushi-teeeeeiiiiii, here I comeeeee baby!

Jadi… perlukah saya memberitahukan potongan ceritanya seperti biasa? kok kayanya udah banyak ya yang nulis? kayanya saya telat nih.

ya sudahlah kalau begitu mari kita bahas gambaran besarnya saja. Film ini… sebenarnya bukan film baru, hanya saja baru diangkat karena “om Spielberg” mengangkatnya kepermukaan karena beliau ketakutan ketika menonton film ini, dan lalu memutuskan untuk membelinya. Film ini mengikuti pendekatan “Blair Witch Project”, seperti “.Rec”. kamera handheld yang gambarnya kadangnya ‘gujleg-gujleg’ karena yang memegang lari-lari (tapi nggak separah “cloverfield” kok). Walaupun mirip, tapi unsur kejutannya tidak sekeras “.Rec”, cuma diakhir saja yang benar-benar menghentak. Terus terang saya kurang suka akting para casts-nya, apalagi diawal film -rasanya ada yang mengganjal dan agak tertahan-, untungnya ketika ketegangan meningkat, akting mereka juga terlihat membaik (ya iya dong… panik juga kayanya walaupun cuma akting)
Ada yang bilang film ini seram karena biang keladinya tidak menampakan diri… setuju juga sih. itu juga unsur yang susah dicari di film-film horor pada umumnya: mengerikan tanpa menampakan.
Ending film ini ada 3 macam. Saya nonton yang paling menghentak (karena ada lempar-lemparan orang). Ending yang lainnya… hehehe masa saya kasih tau? nggak rame dong!

Adegan favorit? mmmm….. ketika Katie di seret dari tempat tidur. It’s just freaking amazing!

secara umum “.Rec” lebih mengerikan, tapi penasaran kaaaannn???